Selasa, 25 April 2017

Oranye

Pundak kita sejajar saat kita berjalan
Sambil menertawakan setiap hal kecil selagi melihat impian yang sama
Jika ku perhatikan, aku masih mendengarnya
Suaramu itu bagai warna oranye seperti warna kota ini

Ketika kau tak ada terasa sangat membosankan
Tapi jika ku bilang sepi, kau pasti akan tertawa
Maka ku terus menghitung setiap hal yang kutinggalkan, tetapi ia bersinar dan tak jua padam

Bagaikan langit setelah hujan, hati ini akan menjadi cerah
Dan senyummu itu yang terus ku ingat, terlintas di angan, buatku ikut tersenyum
Dan kita berdua sejak hari itu tak berubah tetap anak kecil
Kita akan berlari lewati musim berganti untuk melihat ke hari esok

Di saat ku sendiri dan mulai merasa bimbang
Ketika malam ku tak bisa tidur, kita akan teruskan obrolan
Mulai dari sekarang apakah yang akan kau hadapi? Dari sini aku bertanya apa yang akan terjadi?
Ketika petang tiba dan seluruh kota menjadi oranye, perlahan kutitipkan air mataku ini

Di dalam jutaan pancaran cahaya telah terlahir sebuah rasa cinta
Walau kau tak berubah atau jika berubah, janganlah khawatir, engkau tetap dirimu
Suatu hari nanti kita akan dewasa dan bertemu orang-orang hebat
Saat itu ku ingin membawa keluargaku dan bertemu lagi di tempat ini

Bagaikan langit setelah hujan, hati ini akan menjadi cerah
Dan senyummu itu yang terus ku ingat, terlintas di angan, buatku ikut tersenyum
Di dalam jutaan pancaran cahaya telah terlahir sebuah rasa cinta
Kita akan berlari lewati musim berganti untuk melihat ke hari esok
Untuk menggapai mimpi yang kita pilih

Selasa, 04 April 2017

Pergi, Hilang dan Lupakan

Dunia hari ini begitu tak berarti
Tak berjalan cepat seolah tak perduli
Lambat laun ku bertahan dengan hari ini
Hari yang tak akan pernah berakhir

Semua telah berubah sejalan dengan waktu
Setiap detik berharga bagiku
Waktu pun ingin ku ubah
Untuk kembali tertawa
Aku hanya bisa menangis, aku tak bisa

Lupakanlah semua kenangan ini
Hancurkanlah semua mimpi-mimpi
Jangan pernah kembali dan takkan pernah kembali
Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan
Dan karena ku ingin pergi, hilang dan lupakan

Maafkanlah diriku
Atas semua kesalahan yang ku perbuat selama ini kepada dirimu
Dan ku berjanji akan melepasmu dengan senyuman yang akan kau ingat dan kau kenang sampai mati
Selamanya
Selamanya
Selamanya
Selamanya...

Rabu, 27 Januari 2016

Punggung Milikmu

Dalam kerumunan yang mengarah stasiun
Menunggu lampu merah di perempatan jalan

Aku menyadari keberadaanmu
Tapi kau tak menyadari tatapan ini

Semua orang di sekitar terlihat bagai saingan
Dengan sifatku ini tak akan bisa maju

Punggungmu itu selalu saja jauh dan tidak bisa kucapai
Hanya bisa menunggu kamu berbalik

Walau aku memanggilmu, pasti ‘kan terhapus oleh keramaian
Perasaan sayang ini kehilangan tujuannya

Dicintai orang yang tidak disangka itu
Walau dekat sekalipun tidak disadari

Jangan-jangan aku melihat padamu
Dengan tatapan mata yang seperti itu
Hanyalah seorang dari banyak teman laki-laki
Bagi dirimu aku pastilah

Maafkan

Mengharap dicinta tak bisa jikalau tak percaya diri
Ku menghindar seperti tiada apapun

Dari tempat yang sedikit jauh ingin menjadikanmu milikku
Bicara dengan senyuman di dalam hati saja

Hello hello hello
(kusangat suka)
Meskipun begitu
(ku simpan saja)
Lalu berjalan ke punggungmu

Hello hello hello
(kusangat suka)
Kesempatan tapi
(semakin jauh)
Sangat menyakitkan

Punggungmu itu selalu saja jauh dan tidak bisa kucapai
Hanya bisa menunggu kamu berbalik

Walau aku memanggilmu pasti ‘kan terhapus oleh keramaian
Perasaan sayang ini kehilangan tujuannya

Jumat, 11 Desember 2015

Tanggal Merah

Gue sendirian di ruangan, berkutat dengan Laporan Keuangan Semester 1 yang belum selesai juga gue kerjakan. Tetiba junior gue di ruang sebelah nongol.

Dengan setengah berbisik, dia bertanya.

"Mas, kita tanggal 1 ini (1 Januari 2016) gak libur ya?"

Gue diam sebentar, berusaha mencerna.

"Hah?"

"Iya, tadi aku lihat di kalender tanggal 1 ini gak libur Mas."

Seumur-umur gue hidup sampai sekarang, gue belum pernah ketemu tanggal 1 Januari gak libur. Atau mungkin ini juga salah satu pertanda kiamat sudah dekat ya?

"Lu serius? Mana kalendernya?"

Dia diam sesaat.

"Tadi saya lihat di kalender 2015 sih Mas. Itu kan ada sambungannya habis 31 Desember sebelahnya tanggal 1. Tapi 1-nya gak merah. Kayagini lho Mas.. *sambil menunjuk kalender di meja gue, hokinya kalender gue gak ada tanggal sambungannya di Desember*
.. Kok gak ada ya?"

Gue ngerti.
Ini anak pasti keracunan vetsin kedaluwarsa.

"Gini, coba lu cek di kalender 2016. Gue yakin pasti tanggal 1 Januari-nya merah."

"Masa sih Mas?"

Malah ngotot, heran gue.
Kayaknya udah akut mabuknya.

"Iye, lu cari dulu kalender 2016 baru kasih lihat gue. Pasti merah."

"Mas punya gak?"

*ada sih di mejanya Bang Jakir, tapi gue males ngambil*

"Gak punya.
Ya lu yang nanya masa gue yang nyari?"

"Iya juga sih Mas,
tapi beneran kan tanggal 1 itu libur Mas?"

"IYE.
Seumur-umur gue hidup belum pernah tanggal 1 Januari gak merah."

"Mas, tapi di kalender saya tadi tanggal 3-nya yang merah Mas."

*sekilas gue lihat kalender di komputer*

"Ya iyalah, tanggal 3 hari Minggu.
Udah, lu cari kalender 2016 aja sana baru tanya gue lagi.
Pukul gue kalau tanggal 1 Januari gak warna merah."

"Tapi Mas.."

*gue pelototin*

"Yaudah, makasih ya Mas."
Terus dia ngeloyor pergi.

Jumat, 29 Mei 2015

Refrain Penuh Harapan

Entah mengapa aku tahu kalau belok disini akan ada dirimu.
Dari arah sinar mentari, akhirnya ku merasa kamu semakin dekat.
Karena cintaku sungguhan ada hal tak masuk akal.
Kebetulan terus berulang, itu pasti pertanda takdir.

Suka sekali
Suka sekali
Suka sekali
Ku tak bisa lihat yang lain selain kamu.
Aku mencari jawaban masa depan semacam "kita bertemu".

Suka sekali
Suka sekali
Suka sekali
Dadaku ini terasa sedih dan amat sakit.
Walaupun ingin menyerah selalu suka kembali, refrain yang penuh harapan.

Dengan cara yang sangat kaku kau berlari pergi dan sambil berbicara.
Padahal kesempatan bagus, dengan begitu saja itu sudah cukup.
Temannya teman pun tidak akan bisa lebih dari sekarang.
Tetapi kebetulan pasti akan terus terulang.

Hanya dirimu
Hanya dirimu
Hanya dirimu
Yang di dalam hati yang tenang terus mengguncang.
Walau menutup mata pun senyum darimu itu tak bisa pergi.

Hanya dirimu
Hanya dirimu
Hanya dirimu
Berarti bagi hidupku ini, aku pun sadar.
"Walaupun ingin ku tahan selalu teringat lagi", refrain yang penuh harapan.

Suka sekali
Suka sekali
Suka sekali
Ku tak bisa lihat yang lain selain kamu.
Ku tahu bahwa memohon seperti apa pun juga tak akan terkabul.

Hanya dirimu
Hanya dirimu
Hanya dirimu
Cukup menjadi bunga yang tidak menyadariku.
Setiap kali ku bernafas menjadi suka lagi, refrain yang tidak berujung.

Menjadi suka, refrain yang penuh harapan.

Senin, 23 Maret 2015

The Seer of Possibilities

Terkadang, mahluk yang bukan dari dunia ini punya cara menarik untuk mencoba berhubungan dengan kita. Mereka bisa menggunakan Papan Ouija, hadir dalam mimpi, atau kadang mereka berbicara lewat orang lain. Masing-masing punya cara sendiri sesuai dengan yang mereka anggap paling efektif. Mahluk ini, yang berhubungan dengan Jack, berkomunikasi lewat komputernya, atau boleh dikatakan bahwa komunikasi ini lewat teks yang muncul dalam layar. Pertama kali hal ini terjadi, Jack sedang duduk menghadap komputer, bermain Solitaire. Lampu merah dari router berkedip menandakan koneksi internet bermasalah lagi. Hal tersebut nyaris merupakan kejadian wajib mingguan, dan Jack nyaris terbiasa dengan masalah internet itu. Saat sedang memindahkan kartu-kartu, layar berubah menjadi hitam sepenuhnya dan teks berwarna merah muncul kemudian.

“Hai Jack, aku butuh bantuanmu. Kau orang spesial -yang aku tahu- akan membantuku. Aku tidak bisa mengajukan hal ini ke sembarang orang. Aku benar-benar butuh bantuanmu.”