Selasa, 04 Juli 2017

Anak dan Rasa Keingintahuannya

Disini gue duduk, kursi paling ujung moda transportasi dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bintaro. Melanjutkan perkuliahan yg tinggal 2 minggu lagi menuju UAS.

Di belakang gue ada seorang ibu beserta anaknya yg kelihatannya masih balita. Selalu mengoceh, bertanya ini-itu.
"Mah, kita masih di bandara ya"
"Mah, ada pesawat"
"Mah, kenapa kita belum sampai".
Sang ibu hanya tersenyum *kayanya, gue gak nengok belakang*. Sambil menjawab
"iya".

Gue jadi teringat cerita nyokap kalau gue dulu pas kecil juga gitu. Waktu kecil n nenek dari Mamah masih hidup, gue sering ke Banjarmasin naik angkot bareng Mamah n bokap naik motor ngiringin. Sepanjang jalan gue juga sering mengoceh, tanya ini-itu. N seingat gue Mamah sangat sabar mendengarkan n menjawab
"inggih nak ai" (Banjar: iya anakku)

Gue sudah besar, umur udah 25. Suatu saat juga bakal punya anak yg kodratnya juga punya rasa ingin tahu yg besar. Gue iri pada mereka2 yg mampu sabar mendengarkan ocehan anak2. Padahal ocehan itu hal yg menyenangkan lo, bagaimana jika hal itu adalah tangisan di malam hari? Mampukah kita para calon orang tua bersabar mendengarkan?
Insya Allah.
Semoga kita semua menjadi orang tua yg penyabar. 😊

Jumat, 30 Juni 2017

Uang Besar

Jadi ketika itu gue duduk santai di pencucian sepeda motor. Pekerjanya bertiga, jadi siklus sepeda motor cuci-selesai-cuci lumayan cepat.

Gue dapet antrian keempat. Jadi ada tiga orang nyuci sebelum gue. Gue lupa tarifnya berapa, tapi sekitar 10-15ribu rupiah.
Mereka bertiga bayar dengan nominal uang yg sama. 50ribuan.

Yg bayar pertama, masih dapat kembalian dari yg nyuciin motor. Yg kedua, mulai nanya2 temennya, ada uang kecil gak buat dipecah. Yg bayar ketiga, yg nyuciin motor pergi ke warung dekat situ untuk nukerin uang.
Kalian pasti menduga gue akan bayar dengan uang pas, rupanya kalian mungkin benar. Tapi akan menjadi twist kalau gue bayar pakai uang 50ribuan juga kan. 😂

Ya, gue sudah ngantongin uang 10ribu n 5ribuan di dompet. Bukan bermaksud menggurui, tapi cobalah lihat sekitar sejenak. Bagi gue, tempat pencucian motor bukanlah tempat yg lumrah untuk memecah uang. Begitu juga warung2 kecil.
Cobalah memecah uang di SPBU/pom bensin, mini market. Yg sekiranya mereka memang banyak bertransaksi dengan uang2 kecil atau memiliki stok uang kecil.

Jangan lupa juga untuk selalu sediakan stok uang kecil di dompet. Mungkin 3 keping 500an, 5 lembar 2ribuan, 4 lembar 5ribuan, 3 lembar 10ribu n 2 lembar 20ribuan.
Karena akan repot kalau turun angkot / bayar parkir kalau di dompet penuh dengan uang besar.

Semoga kita semua selalu dilimpahkan rezeki n dimudahkan untuk tidak menyulitkan yg kecil ya. Aamiin. 😊

Senin, 19 Juni 2017

Pernikahan yang Barokah Akan Kamu Dapatkan Jika Kamu Meninggalkan 4 Sifat Ini

Semua pasutri muslim tentunya berharap bisa membentuk rumah tangga sakinah mawaddah warahmah dan memperoleh pernikahan yang penuh barokah.
Tapi banyak yang lupa bahwa untuk sampai ke titik tersebut ada ikhtiar yang perlu diupayakan, salah satunya adalah dengan menghilangkan beberapa sifat yang kontraproduktif terhadap tujuan tersebut.
Apa saja sih sifat-sifat yang harus lenyap dari diri kita atau minimal berkurang agar memudahkan kita mencapai pernikahan barokah?

1. Malas
Apa kegiatan Sahabat sehari-hari terutama ketika libur sedang tidak ada kerjaan? Pantengin acara TV? Stalking sosmed? Nonton berseason-season Korean Drama? Atau tidur cantik seharian?
Hampir bisa dipastikan hal itu pula yang akan Sahabat lakukan ketika sudah menikah. Atau bisa jadi derajatnya lebih parah.
Karena biasanya seorang yang masih belum menikah berusaha melakukan banyak amalan kebaikan agar dipermudah datang jodoh, tapi begitu sudah menikah. Sudah kehilangan motivasi untuk meningkatkan kualitas atau kuantitas amalan.
Padahal untuk mendapat pernikahan penuh keberkahan, kita perlu action, melakukan sesuatu yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri tapi juga orang lain.
Tidak musti keluar rumah siih… action yang dimaksud bahkan bisa juga dilakukan sambil tidur-tiduran di dalam kamar, misalnya dengan membuat tulisan positif setiap harinya, menghafal quran, atau, belajar hal baru melalui youtube.
Ada juga pasutri yang membangun rumah baca di mana-mana, melakukan penggalangan dana untuk membantu orang-orang yang terkena penyakit dan aktivitas lainnya yang nyata manfaatnya.
Yang jelas, jika kegiatan kita hanya bermalas-malasan, tidak melakukan apapun yang membawa manfaat untuk dunia ataupun akhirat, jangan harap bisa mendapat pernikahan barokah.
Oya, namun jangan salah… Untuk para wanita, mencuci dan menyeterika baju suami, menyiapkan makanan, mengurus anak di rumah, itu adalah kegiatan rutin harian yang in syaa Allah dahsyat pahalanya.
Jadi tidak perlu merasa ‘minder’ atau merasa kurang manfaat karena ‘hanya’ mengurus rumah tangga di rumah, selalu berdoa agar anak-anak yang lahir dari pernikahanmu adalah calon pemimpin umat masa depan. In syaa Allah jika hati ikhlas, maka semua yang dilakukan akan berbuah kebaikan.

2. Perfeksionis
Kalau pekerjaan kita adalah dokter ahli bedah, menjadi pefeksionis itu harus. Jangan sampai salah jahit, salah potong, atau ada benda ketinggalan di badan orang lain.
Akan tetapi ketika bersama pasangan dan anak-anak nantinya, plis… Kurangilah sifat perfeksionis, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna lho.
Tak perlu marah-marah ketika suami selalu menaruh handuk basah sembarangan, tak perlu marah-marah kalau istri selalu lupa masukkan garam ke dalam masakan, biasa saja… Toh itu bukan dosa besar.
Jangan keseringan ngomel, “Aku kan sudah bilang ribuan kali… Jangan lupa matikan kran kalau keluar dari kamar mandi!”
Memang tampak menyebalkan kalau hal-hal kecil yang sudah kita peringatkan pada pasangan terus aja dilakukannya. Tapi di situlah seninya pernikahan, agar dua orang yang tidak sempurna bisa menjadi sempurna karena bisa saling menerima kekurangan.
Tidak sedikit orang yang terlalu perfeksionis berakhir pada perceraian, karena ia tak bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain dan merasa lebih mudah jika menjalani hidup sendirian saja. Jadi… Belajar kurangi sifat perfeksionis yaa!

3. Gampang Tersinggung dan Mendendam
Jika ada yang menghina Allah, Rasulullah, dan Islam bolehlah kita merasa tersinggung, bahkan harus tersinggung sebagai tanda keimanan! Akan tetapi kalau cuma dibilang cucian kurang bersih, masakan kurang enak, yaa tidak usah baper, apalagi sampai mendendam.
Biasanya ini terjadi dalam konflik antara istri dan ibu mertua. Semua yang dilakukan istri selalu dikomentari, tidak ada yang benar, tidak ada yang beres, maka sebisa mungkin abaikan masalah-masalah yang bisa bikin baper tersebut.
Kebalkan hati dan tetaplah berbuat baik sekalipun pasangan atau mertua atau ipar bersikap menyebalkan. Percayalah bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja, fokus pada ridho Allah in syaa Allah beres.
Asiyah yang bersuamikan seorang Fir’aun yang kafir saja bisa bertahan dalam rumah tangga bahkan mendapat istana di surga karena kesabarannya tersebut. So, kurangi sifat gampang tersinggung alias baperan. Percayalah bahwa selama pernikahan sangat mungkin engkau akan memanen air mata.
Pernikahan bukan melulu soal yang indah, romantis dan menyenangkan, tapi juga soal mengelola konflik, perbedaan pandangan dan cara penyampaian. Maka jika kita semakin mahir mengelola perasaan, semakin kebal dan tak mudah baper, semakin mudah pernikahan kita jalani.Apapun masalahnya takkan jadi masalah.
Sebaliknya, semakin sensitif kita, gampang baperan, mudah tersinggung, hobi memendam dendam, maka seremeh apapun permasalahan akan selalu jadi masalah besar. Bukan pernikahannya yang salah, bukan rumah tangganya yang seperti neraka, tapi sifat kita yang terlalu rapuh lah yang membuat segalanya terasa sulit.
Bagi yang punya perasaan sensitif, belajarlah hanya mengurai air mata jika berhubungan dengan dosa-dosa kita sendiri, hanya menangis jika mengingat azab dan beratnya pengadilan padang mahsyar. Hanya menangis karena bertaubat pada Allah.
Plis jangan menangis hanya karena suami tidak mendengar curhatan kita, hanya karena mertua selalu menyerocos, karena hal tersebut tidak istimewa, mungkin sekitar 70% wanita yang sudah menikah mengalaminya. Menangis sebentar tak apalah, tapi kalau sampai berhari-hari yaa jangan. Terlalu sepele.

4. Egois
Sifat yang paling perlu dimusnahkan dalam pernikahan adalah egois! Akan tetapi fokuslah pada menghilangkan sifat egois diri sendiri, bukan sifat egois pasangan! Karena terlalu melelahkan mengurusi sifat egois orang lain.
Sifat egois alias mementingkan diri sendiri sebenarnya memperlihatkan tidak dewasanya seseorang. Seperti bayi yang tidak mau tahu ibunya sedang repot atau tidak, pokoknya setiap kali menangis, dia minta kebutuhannya dipenuhi. Entah itu popok yang basah, perut yang lapar, minta digendong, pokoknya HARUS segera dipenuhi.
Memiliki pasangan yang egois pastinya lebih menyulitkan daripada mengurus bayi, maka itu sejak sebelum pernikahan cari tahu kadar egois calon pasangan hidup kita.
Orang yang tidak pernah mau mengalah dalam perdebatan biasanya memperlihatkan sifat egois yang tinggi, pendapatnya harus selalu disetujui, permintaannya harus selalu dipenuhi, semua kebaikan dan kehebatan yang dilakukannya harus diapresiasi dan dielu-elukan. Capek deh…
Maka jika mengharapkan pernikahan barokah, minimalisir sifat egois dalam diri kita. Buat kaum pria, belajar membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau bergantian mengurus anak, sama sekali takkan mengurangi kadar gentleman Anda, justru bakal meningkatkan derajat keshalihan.
Jangan egois menyerahkan semua urusan domestik pada istri, silakan rasakan seminggu saja di rumah terus-menerus dengan melakukan kegiatan mencuci baju, menjemur, mengangkat jemuran, menyetrika, menaruh baju ke lemari, belanja, memasak, mencuci piring dan peralatan masak, menyapu, mengepel, menggendong anak yang rewel, membuatkan bubur dll.
Bahkan jikalau pun Anda berhasil melakukannya, belum ada apa-apanya dengan kelelahan istri saat hamil dan melahirkan.
Jadi jangan menganggap diri hebat sudah bekerja banting tulang untuk memberi makan anak dan istri, sehingga tidak mau lagi direcoki oleh urusan domestik. Bahkan Rasulullah saja bersedia membantu istrinya di rumah.
Untuk para istri, jangan egois minta selalu diperhatikan suami, dan ngambek jika tidak diperhatikan, ingatlah suami juga punya tanggungjawab pada pekerjaannya, orangtuanya, kesehatannya, maka janganlah egois apalagi sampai meminta lebih dari kemampuan suami menyanggupinya.

Sekian dulu kajian kita mengenai beberapa sifat yang perlu dimusnahkan agar mendapat pernikahan barokah, semoga bermanfaat.

Sumber: islamidia.com

Senin, 08 Mei 2017

Nonton Bioskop Sendirian.. Secara Harfiah

Mungkin gue udah beberapa kali nonton bioskop sendiri. Selain nature gue yg emang gak terlalu suka bergumul dengan banyak orang, film yg biasa gue tonton sendiri merupakan film yg kurang mainstream. Singkatnya, kalau film mainstream pasti nontonnya barengan karena mainstream *duh.

Yg jelas banget gue ingat nonton sendiri itu adalah Perahu Kertas part 1 n 2. Karena gue kadung nge-fans sama novelnya *gue anggap Maudy Ayunda sebagai bonus, gue jadi nonton sendiri karena temen2 gue bukanlah penikmat drama.

Pas part 1, gue mesan sendiri dengan tatapan masa bodo sampai mbak2 yg jaga ketawa sendiri *atau perasaan gue aja karena biasanya perasaan itu sesuai apa yg dirasa. Bayangin seorang cowok, tampan, nonton film drama, sendirian. Segitu hinanya kah diriku ini?
Di part 2, gue menggunakan sedikit kecerdasan gue dengan memesan sambil pura2 nelpon. Singkatnya gue mesan tiket sambil seolah ngobrol sama orang lain di hp padahal gak, yg nanya "eh lu kursi berapa? Oh C ya? C11? Oke2." kemudian gue senyum ke mbak2 yg jaga n bilang "C10 Mbak".

Kebiasaan ini masih berlanjut hingga ke tayangnya film Bima-X yg berjudul Satria Heroes: Revenge of Darkness. Gue udah ngikutin serial Bima dari 2013, jadi mubazir kalau gak nonton filmnya. Kebetulan gue juga belum nonton Guardian of the Galaxy vol. 2, jadi sekalian gue beli tiketnya tapi beda jam *ya iyalah. Gue beli Satria Heroes duluan karena gue nge-fans, n juga gak mau visual effect-nya kebanting. N gue juga nontonnya gak pas premier karena pas premier gue pas lagi ada kegiatan. Tapi denger2 yg gue agak skeptis juga, Satria Heroes mau kejar target sejuta penonton. Jadilah gue mau lihat berapa orang yg nonton.

Jam film-nya mulai pagi bener. 12.30 alias pas baru bioskopnya buka. Pas pintu studio buka, gue juga santai2 dulu. Gue lihat ada bapak2 bawa anak, jangan2 anaknya fans Bima-X juga mau nonton. Akhirnya gue masuk studio yg rupanya kosong. Oke, gue menganalisa mungkin gue kepagian. Setelah beberapa trailer, film pun dimulai n gue baru sadar kalau isi studio itu cuma gue.
Ya,
Cuma gue,
Sendirian,
Sampai film habis.
Denger2 film-nya ada post credit scene, jadi gue nunggu sampai bener2 habis karena mau lihat bocoran season 3 Satria Heroes-nya. Gue udah siap2 alasan kalau tiba2 pasukan bersih2 datang n ngusir gue. Tapi hingga layar bioskopnya hitam pun,
Gue masih sendirian.
Sendirian.
Karena udah lewat post credit scene, akhirnya gue putuskan balik. N gue baru sadar jikalau pintu exit-nya gak kebuka.
Gue coba ke pintu masuk, itu pun juga ketutup.
Gue coba dorong2, gak bisa kebuka.
Sial.
Gue udah mikir aneh2 kan, jangan2 warga kota udah hancur semua karena pertarungan Bima-X barusan n gue selamat karena nonton sendirian dalam studio yg ternyata shelter anti-kejahatan.
Setelah beberapa saat kalut, akhirnya ada yg buka pintu. N reaksi yg bukain "loh ada yg nonton?"

Oke, target sejuta penonton itu ketinggian.

Selasa, 25 April 2017

Oranye

Pundak kita sejajar saat kita berjalan
Sambil menertawakan setiap hal kecil selagi melihat impian yang sama
Jika ku perhatikan, aku masih mendengarnya
Suaramu itu bagai warna oranye seperti warna kota ini

Ketika kau tak ada terasa sangat membosankan
Tapi jika ku bilang sepi, kau pasti akan tertawa
Maka ku terus menghitung setiap hal yang kutinggalkan, tetapi ia bersinar dan tak jua padam

Bagaikan langit setelah hujan, hati ini akan menjadi cerah
Dan senyummu itu yang terus ku ingat, terlintas di angan, buatku ikut tersenyum
Dan kita berdua sejak hari itu tak berubah tetap anak kecil
Kita akan berlari lewati musim berganti untuk melihat ke hari esok

Di saat ku sendiri dan mulai merasa bimbang
Ketika malam ku tak bisa tidur, kita akan teruskan obrolan
Mulai dari sekarang apakah yang akan kau hadapi? Dari sini aku bertanya apa yang akan terjadi?
Ketika petang tiba dan seluruh kota menjadi oranye, perlahan kutitipkan air mataku ini

Di dalam jutaan pancaran cahaya telah terlahir sebuah rasa cinta
Walau kau tak berubah atau jika berubah, janganlah khawatir, engkau tetap dirimu
Suatu hari nanti kita akan dewasa dan bertemu orang-orang hebat
Saat itu ku ingin membawa keluargaku dan bertemu lagi di tempat ini

Bagaikan langit setelah hujan, hati ini akan menjadi cerah
Dan senyummu itu yang terus ku ingat, terlintas di angan, buatku ikut tersenyum
Di dalam jutaan pancaran cahaya telah terlahir sebuah rasa cinta
Kita akan berlari lewati musim berganti untuk melihat ke hari esok
Untuk menggapai mimpi yang kita pilih

Selasa, 04 April 2017

Pergi, Hilang dan Lupakan

Dunia hari ini begitu tak berarti
Tak berjalan cepat seolah tak perduli
Lambat laun ku bertahan dengan hari ini
Hari yang tak akan pernah berakhir

Semua telah berubah sejalan dengan waktu
Setiap detik berharga bagiku
Waktu pun ingin ku ubah
Untuk kembali tertawa
Aku hanya bisa menangis, aku tak bisa

Lupakanlah semua kenangan ini
Hancurkanlah semua mimpi-mimpi
Jangan pernah kembali dan takkan pernah kembali
Dan janganlah kau pernah berikan aku satu harapan
Dan karena ku ingin pergi, hilang dan lupakan

Maafkanlah diriku
Atas semua kesalahan yang ku perbuat selama ini kepada dirimu
Dan ku berjanji akan melepasmu dengan senyuman yang akan kau ingat dan kau kenang sampai mati
Selamanya
Selamanya
Selamanya
Selamanya...